MASA REMAJA II/2 PADA BATAS DEWASA AWAL



 
1.     Kedewasaan, keadaan  “monding” dan emansipasi

Dewasa dalam bahasa belanda adalah “volwassen”. “Vol”= penuh dan “wassen”= tumbuh, sehingga volwassen berarti sudah tumbuh dengan penuh atau selesai tumbuh. Pada usia 21 dianggap sebagai batas kedewasaan. Batas tadi sebetulnya timbul secara historis dan tidak mutlak, dapat juga ditentukan pada umur 25 atau 18 tahun. Usia ini adalah usia seseorang yang mendapatkan hak-haknya sebagai warga Negara, dengan begitu ia dapat melakukan kewajiban-kewajiban tertentu tidak tergantung pada orang tuanya, seperti misalnya hak memilih, kewaiban tanggung jawab secara hukum, kawin tanpa izin orang tuanya. Di Indonesia batas kedewasaan adalah juga 21 tahun. Hal ini berarti bahwa pada usia itu seseorang sudah dianggap dewasa, dan selanjutnya dianggap mempunyai tanggung jawab terhadap perbuatan-perbuatannya. Ia mendapatkan hak-hak tertentu sebagai seorang dewasa, misalnya hak untuk memilih DPR, dapat nikah tanpa wali,dsb. Tanggung jawab terhadap perbuatanya tadi berarti pula bahwa ia sudah dapat dikenai
sanksi-sanksi pidana tertentu apabila ia melanggar peraturan hokum yang ada. Wijngaarden melukiskan tugas perkembangan bagi orang dewasa sebagai suatu sikap menerima kehidupanya. Dengan begitu kedewasaan merupakan suatu norma yang harus dicapai dalam perkembangan. Sebagai cirri khas anak muda diantara masa pubertas fisik dan kedewasaan yuridis-sosial, adalah bahwa dia dapat mewujudkan dirinya sendiri. Pada waktu ini anak muda membebaskan dirinya dari lindungan orang tuanya. Hal ini berarti bahwa remaja secara mental tidak suka lagi menurut pada orang tuanya. Kewibawaan wakil-wakil generasi tua seperti orang tua, guru, pemimpin-pemimpin agama, dan sebagainya, tidak lagi beitu saa diterima.
Di Indonesia sikap ingin membebaskan dirinya dari generasi tua ini mungkin disertai oleh sikap hormat dan menjaga distansi antara golongan muda dan golongan tua sesuai dengan norma –norma yang dipercaya. Tetapi bagai manapun juga keinginan untuk berdiri sendiri dan mewujudkan dirinya sendiri ini merupakan kecenderungan yang ada pada setiap anak muda. Dalam bahasa Belanda sikam membebaskan diri dari generasi tua ini disebut dangan “mondig”. Istilah mondig dapat diterangkan bahwa dalam perkembangan anak muda telah dicapai suatu stadium yang membuat mereka berusaha untuk mencari norma-norma sendiri dan berdiri sendiri. Apa yang merupakan sifat khas perkembangan anak muda dalam masa hidup ini paling baik dapat dilukiskan dengan istilah emansipasi (suatu proses). Dalm proses tersebut orang-orang, selama berkembang dan bersama-sama dengan orang lain yang ada dalam keadaan yang sama, belajar untuk mengaktualisasi dirinya sebagai kelompok yang diperlakukan sama dan sebagai orang-orang yang didalam kelompok itu mendemonstasi individualitasnya sendiri. Hal ini dilakukan dengan membebaskan dirinya dari ikatan-ikatan irasional yang membuat mereka menadi kelompok yang diskriminasi. Adanya jurang antar generasi akan mungkin menimbulkan suatu konflik antar generasi.
Giesecke (1974-1978) menemukan bahwa konflik ini selalu muncul setiap waktu. Hal ini dapat dianggap sebagai aspek politik proses emansipasi, suatu aspek dalam emansipasi anak muda yang memberikan corak tersendiri. Proses emansipasi secara jelas menandai perkembangan sebagai suatu proses perubahan yang fundamental. Riegel bahkan melihat perkembangan manusia sendiri sebagai akibat kontradiksi dan konflik (Verhofstadt-Deneve, dalam Monks dkk,1981) dalam bergaul dengan orang dewasa, remaa selalu mengambil isisiatif-inisiatif baru. Konflik bukan hanya merupakan “choc des opinions”.

2.     Renaja yang bekera dan remaja yang bersekolah
  
Rata-rata remaja menyelesaikan sekolah lanutan pada usia kurang lebih 18 tahun. Pada waktu ini di Indonesia ada dorongan besar untuk melanjutkan sekolah ke PT. namun ada juga sebagian besar remaja yang tidak dapay melanjutkan dan mencari suatu pekerajan.
Alasan-alasan  remaja tidak melanjutkan ke Perguruan Tinggi adalah :
·         Alasan Ekonomi
·         Alasan Psikologis
·         Alasan Sosiologis
Dari penelitian Yland dikemukakan bahwa banyak murid-murid dari lingkungan yang lebih rendah meninggalkan sekolah sesudah menyelesaikan sekolah lanjutan. Penelitian ini juga menunjukan bahwa mereka yang meninggalkan sekolah dan memperoleh pekeraan yang dipilih tadi, sebetulnya belum mengerti akan isi daripada pekerjaan mereka itu. Anak-anak muda atau remaja yang sudah bekerja lalu termasuk dalam golongan orang dewasa. Mereka sudah sedikit dapat mencari nafkah atau menambah nafkah orang tuanya. Pengalaman kera mereka, mereka lakukan bersama-sama dengan orang-orang dewasa yang lekas mereka menjadikan objek identifikasi diri mereka.
3.     Remaja dan pekerjaan

Ginzberg (1951) telah membuat penataan dalam data mengenai proses pemilihan pekerjaan melalui tekhnik-tekhnik interview dalam penelitian logitudial dan tranfersal. Ia membedakan dalam tiga periode :
·         Periode Fantasi
·         Periode Tentative
·         Periode Realistis
Istilah lingkungan pekerjakan dipakai disini untuk mengganti istilah pekerjaan. Wiegersma (1962) membedakan antara pekerajaan, fungsi dan lingkungan pekerjaan. Pekeraan mempunyai hubungan dengan kesatuan tugas-tugas yang dilakukan dalam suatu kehidupan bersama lepas dari organisasi yang spesifik. Bila kesatuan tugas tadi ditentukan oleh organisasi kerja yang spesifik maka hal itu lalu disebut fungsi. Istilh lingkungan pekerjaan dilukiskan sebagai kesatuan tugas yang diberikan pada seseorang dalam kehidupan bersama. Batas-batas yang nyata disini seperti yang sudah diketahui sebelumnya, ada pada umur 14 tahun yaitu pada pemasakan seksual, dan 65 tahun pada waktu orang menarik diri dari pekerjaanya. Yang penting ialah bahwa remaja yang dibicarakan disini yaitu antara 16 dan 20 tahun ada dalam periode eksploratif atau seperti apa yang dikatan Gienzberg dalam peralihan periode tentative ke periode realities.
Menurut wiegersma maka pemilihan yang “pasti” ditentukan oleh sejumlah factor-faktor ensesial dan kebetulan. Factor-faktor ensesial dibedakan antara factor-faktor yang memberikan batas dan memberikan arahan. Factor-faktor yang memberikan batas kemampuan seseorang atas dasar potensial-potensial psikis dan fisiknya dan juga atas dasar pembentukan dan bantuan yang datang dari lingkungannya. Factor-faktor yang member arah dan dorongan datang dari sejumlah factor persona, sosiologis, social-ekonomi dan sifat watak seseorang. Contoh dari masing-masing adalah, misalnya jenis kelamin, status social, konungtur, kebutuhan-kebutuhan pribadi. Hal-hal ini semua memberikan pengaruh pada arah pemilihan pekerjaan. Keseluruhan factor-faktor ini menyebabkan anak muda membutuuhkan nasihat dan bimbingan dalam memilih suatu pekerjaan. Hal ini terutama dibutuhkan dalam periode tentative, tetapi juga pada permulaan periode relistis dan bahkan juga pada permulaan melakukan pekerjaan. Pusat-pusat bimbingan pekerjaan dan para orang tua mempunyai peranan yang sangat besar dalam hal ini. Peran orang tua sebagai modal, terutama ayah bagi anak laki-laki sangatlah penting.
 Penelitian Bell yang dilaporkan oleh Conger tahun 1973 menemukan bahwa pengaruh ayah sebagai model pemilihan pekerjaan anak laki-laki bertahan selama perioda 14 dan 24 tahun. Bagi remaja pekerjaan bukan merupakan suatu sumber kesenangan, melainkan sebagai sumber penghasilan. Disini para remaja yang bekerja daqpat membuat perubahan dalam kehidupan mereka. Dilihat dari segi psikologi perkembangan maka bagi para remaja pekerjaan tadi merupakan suatu cara untuk memperoleh kemerdekaan. Penghargaan untuk membuat rencana dalam arti merencanakan pelaksanaan tugas yang efisien,semuanya itu memegang peranan yang penting dalam mencapai kemerdekaan.   

4.     Perkembangan moralitas

Further (1965) beranggapan bahwa kehidupan moral merupakan problematic yang pokok dalam masa remaja. Maka perlu meninjau perkembangan moralitas ini mulai dari waktu anak dilahirkan. Dalam stadium nol, anak menganggap baik apa yang sesuai permintaan dan keinginannya. Stadium ini bersamaan dengan stadium praoperasional dalam perkembangan inteligensi menurut Piaget. Sesudah stadium ini datanglah kedua stadium yang oleh Kohlberg disebut pra konvensinal. Dalam stadium prakonvensional anak mengikuti apa yang dikatakan baik atau buruk untuk memperoleh hadiah atau hukuman. Hal ini disebut dengan hedonism instrumental. Sifat timbale balik disini memegang peranan, tetapi masih dalam arti moral balas dendam. Kedua stadium ini sesuai waktu dengan stadium operasional kongrit dalam perkembangan intelektual Piaget. Dengan datangnya stadium operasional formal mulailah juga perkembangan moral yang sebenarnya. Dalam hubungan ini Kohlberg membedakan stadium konvensional  (stadium 3 dan 4) dan stadium pos konvensional (stadium 5 dan 6).
Dalam stadium 3 akan dinilai baik apa yang dapat menyenangkan dan disetujjui oleh orang lain dan buruk apa yang ditolak oleh orang lain. Menjadi anak yang manis masih sangat penting dalam periode ini. Dalam stadium 4 tumbuh semacam kesadaran akan kewajiban dalam arti ingin mempertahankan kekuasaan dan aturan-aturan yang ada , karena dianggapnya berada, tetapi dengan belum dapat mempertanggung jawabkan secara pribadi. Stadium yang terakhir disebut post konvensional untuk menunjukan bahwa dalam stadium operasional formal moralitas akhirnya akan berkembang sebagai pendirian pribadi, jadi lebih tidak tergantung dari pada pendpat-pendapat konvensioal yang ada.
Tingkat perkembangan social kognitif akan diterangkan berikut ini :
1.      Tingkat egosentrik à anak belum membedakan antara prespektif sendiri dengan prespektif orang lain.
2.      Tingkat subjektif à anak sekarang sadar bahwa ada prespektif-prespektif yang lain misalnya karena seseorang ada dalam situasi yang lain maka ia akan memperoleh informasi-informasi yang lain.
3.      Tingkat reflex diri à sekarang ada prespektif yang menyebelah atau yang tidak timbale balik pada anak. Anak sadar bahwa orang lain dapat mempunyai perasaan dan fikiran yang lain pula, tetapi dia tidak mampu menghubungkan prespektif sendiri dengan prespektif orang lain.
4.      Tingkat koordinasi prespektif à baru sekarang anak dapat mengerti suatu situasi interaksi dari sudut pandang orang ketiga yang netral. “sifat ras dari koordinasi prespektif adalah bahwa anak seakan-akan menempatkan diri diluar dirinya sendiri dan melihat interaksinya antara dirinya sendiri dan orang lain dari sudut posisi orang ketiga dan dari posisi itu dapat menemukan hubungan yang timbal balik antara berbagai prespektif tadi.”(Gerris dkk, 1980, h.15; lihat juga Heimans 1979).
Dalam tinjauan fenomenologisnya yang luas Furter mengemukakan tiga macam dalil sebagai berikut:
a.       Bahwa tingkah laku moral yang sesungguhnya baru timbul pada masa remaja
b.      Bahwa masa remaja sebagai periode masa muda harus dihayati betul-betul untuk dapat mencapai tingkah laku moral yang otonom.
c.       Bahwa eksistensi muda sebagai keseluruhan merupakan masalah moral dan bahwa hal ini harus dilihat sebagai hal yang bersangkutan dengan nilai-nilai(penilaian).

5.     Sikap pendirian yang berhubungan dengan pandangan hidup

Mengembangkan suatu pandangan hidup sebagai suatu kesatuan nilai yang integral(Krathwohl. 1964 ) adalah tugas salah satu hasil yang dicapai orang dewasa, karena hal ini memungkinkan seseorang untuk menempatkan semua kejadian, kebenaran dan nilai-nilai dalam satu sudut pandang tertentu yang mencakup segalanya. Dan dari sudut pandang inilah akan diberikan arti semua hal tersebut tadi. Allen dan Spilke mengusulkan suatu perbedaan antara konsensual religion dan komitmen religion (Fortman, 1968, h.103) sebagai dua macam gaya religious yang berbeda satu sama lain dalam lima factor yaitu isi, kejelasan, kompleksitas, fleksibilitas, dan sifat penting atau tidaknya.

No comments:

Post a Comment